Search the Web:

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Fakultas

Fasilitas

Artikel

Kontak :

Untitled Document

Gedung Pusat (GP)
Jl. Sidodadi Timur No. 24, Dr. Cipto-Semarang 50125


Gedung Utama & Gedung Baru

Jl. Lontar No. 1, Semarang 50125

Indonesia

Indonesia


Email : ikippgri@ikippgrismg.ac.id

Telepon : (024) 8316377

Faks : (024) 8448217

Website : http://www.ikippgrismg.ac.id

Opera Punakawan Mahasiswa Masuk MURI


Kamis, 21 Juli 2011 - 11:20:29 WIB
Diposting oleh : Teddy IKIP PGRI Semarang - Dibaca: 1966 kali

Semarang - Dengan menunduk lesu Gareng, Petruk, dan Bagong perlahan-lahan mendekati Guru Semar. Dengan suara rintih, ketiga murid itu mengutarakan kesalahannya pada sang guru. “Guru, kami menuntut hak atas kesalahan kami, hukumlah kami sesuai dengan apa yang telah kami lakukan,’’ kata ketiganya. Pagi itu, Rabu (20/7) tiga murid kesayangan Semar datang terlambat karena sesuatu hal.Apa yang disampaikan Gareng, Petruk, dan Bagong pagi itu membuat Semar heran. Sebab, tidak ada niatan guru yang baik itu menghukum keterlambatan mereka.

Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang dia justru mempersilakan ketiga muridnya itu untuk menentukan sendiri hukuman apa yang pantas dengan kesalahan mereka. Tanpa harus diberitahu, Gareng, Petruk, dan Bagong langsung berdiri di depan kelas menentukan sendiri apa yang pantas diterima akibat keterlambatan mereka.Ganjaran Pantas “Anakku, silakan tentukan sendiri apa yang pantas yang menjadi ganjaran atas kesalahan kalian.Tentunya kalian sudah mengerti apa yang menjadi kewajiban dan hak sebagai murid,’’ kata Semar penuh kesabaran.Ya, itulah sepenggal dialog dalam opera punakawan dengan lakon Guru Semar yang diperankan 730 mahasiswa IKIP PGRI di Halaman Gedung Utama kampus IKIP PGRI. Mereka terbagi dalam ratusan kelompok. Tiap kelompok terdiri atas 4 mahasiswa. Kostum punakawan yang mereka kenakan pun bermacam-macam, mulai dari seragam guru, hansip hingga berdandan ala pocong.Dalam cerita yang mereka bawakan, sarat dengan sentilan-sentilan yang mengusik realitas pendidikan di Indonesia saat ini. Semar misalnya, yang digambarkan sebagai guru yang sabar, bijak, dan selalu membimbing muridnya untuk menjadi generasi penerus. Sedangkan Gareng, Petruk dan Bagong mencerminkan murid dengan sifat kesatria, mau mengakui kesalahannya tanpa harus ditunjukkan oleh sang guru.

Pementasan itu berhasil masuk dalam catatan Museum Rekor Dunia Indonesia yang ke-5015.

Menurut koordinator acara Murywantobroto, acara ini memang untuk menggambarkan bagaimana seharusnya pendidikan dijalankan.“Guru sebagai pendidik seharusnya dapat menanamkan jiwa kesatria pada muridnya. Sehingga anak didik bisa menyadari apa yang menjadi kesalahan mereka,’’ kata Broto.Menurut Broto, yang dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra, guru seharusnya ngemong dan sebagai pelayan pendidikan bagi anak, artinya sebagai tenaga pendidik mereka hars bisa menanamkan jiwa luhur dan tidak menuntut untuk dilayani oleh oleh murid.Saat ini, kata Broto, yang terjadi kebalikannya banyak guru yang menuntut dilayani oleh muridnya.“Dengan kekuasaan yang dimiliki, kadang guru bertindak sewenangwenang pada murid,’’ tandasnya.Menurut dia, ide pementasan opera punakawan itu sebenarnya terinspirasi kondisi negara. Para pemimpin yang seharusnya melayani rakyat, tidak menjalankan tugas dengan baik dan justru melupakan rakyat.Ditambahkan Rektor IKIP PGRI Muhdi SH MHum, pementasan ini sebagai pembangun karakter calon guru melalui watak punakawan yang diperankan. “Jadi pendidik tidak hanya mampu mengajar tetapi juga mempunyai watak yang luhur seperti tokoh dalam punakawan,’’ kata Muhdi.

Setelah pementasan, diserahkan penghargaan dari Muri oleh Manajer Muri Paulus Pangka kepada Rektor IKIP PGRI Muhdi SH MHum.